Ramadhan tahun 2000, mungkin adalah Ramadhan dan Idul Fitri pertama aku, dimana aku mulai mengerti arti kehilangan sesuatu yang berharga.
Ramadhan tahun 2000, Bulan Desember. Aku baru saja melewati usia 16 tahun. Usia dimana aku di saat itu hanya memikirkan diri aku sendiri, masih berusaha meng-eksis-kan diri aku sendiri di tengah2 pergaulan aku, tanpa aku pernah memikirkan hidup yang sebenarnya seperti apa.
Namun, aku harus belajar segala sesuatunya dengan sangat cepat dan tiba-tiba. Hanya dalam waktu kurang dari 12 Jam, hidup aku berubah drastis, perubahan yang selama ini gak pernah aku bayangkan.
Ramadhan tahun 2000, Ramadhan ke-19, di bulan Desember.
Siang hari itu, aku masih berpikir segalanya masih baik2 saja, masih sama seperti 16 tahun ini aku jalani. Beliau baru saja pulang dari Jakarta selama hampir 1 minggu pergi untuk keperluan kerjanya. Kemudian Beliau pergi lagi untuk membayar zakat dan memberikan uang belanja untuk keperluan hari raya kepada Ibunda nya. Aku pun hanya melihat Beliau sekilas di rumah.
Buka puasa di Meja Bundar berlangsung seperti biasa, Walaupun 3 abangku tidak ada di rumah.
Magrib berjalan seperti biasanya.
----
Azan Sholat Isya berkumandang dari Masjid di belakang rumah, Azan terakhir yang akan pernah didengar Beliau..
Suara panik, ketakutan, kegamangan, segala perasaan yang saat itu tak bisa aku lukiskan.
Di ruangan itu, aku melihat Beliau dari kejauhan. Aku sentuh tubuhnya, terasa dingin. Aku mencoba tabah, walaupun dengan badan gemetar dan menahan tetes airmata, aku diam di samping tubuh Beliau.
Mencoba berusaha dan ber-ikhtihar kepada-Nya, namun ntah mengapa firasat kehilangan itu seolah-olah datang.
Berdoa semalaman... Berdoa untuk apapun yang terbaik yang akan diberikan-Nya kepada Beliau. Menangis dalam tidur ku, mengingat kenangan masa indah 16 tahun hidup ku bersama Beliau.
----
Azan subuh berkumandang di Masjid belakang rumah. Dering telepon, mengubah hidup ku untuk selamanya...
Mencoba mengikhlaskan segalanya dengan Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun... Segala yang menjadi milik-Mu ya Allah, akan kembali kepada-Mu.
Mencoba mengikhlaskan segala yang terjadi, mencoba mengerti dan menerima kalau yang Kau takdirkan adalah yang terbaik, aku berusaha semampu aku, namun aku akhirnya menyerah. Aku marah pada-Mu.
Kemudian aku melihat sosok lemah yang memelukku dengan eratnya, berusaha menumpahkan derita di hatinya, dengan memeluk aku. Sosok yang berusaha mengajarkan aku ikhlas untuk menerima segalanya, walau aku dapat merasakan kesedihannya yang mendalam.
Untuk sosok itu, aku berusaha ikhlas. Aku berusaha tabah. Aku berusaha menerima dalam kesedihan ini. Aku berdamai dengan keputusan-Mu ya Rab.
Aku melihat tubuh Beliau, disana, terbujur dalam kepasrahannya menghadap Sang Pencipta.
Dengan mencoba menahan airmata, Ku sentuh wajahnya, ku cium pipinya, dan ku bisikan kata, "Pa... Maafin Tia selama ini punya banyak salah sama Papa...."
Tujuh Ramadhan... dan aku masih dapat merasakan perih dan kesedihan di hari itu...
 | Sakit apa sih? Turut sedih... |
| |