Kerinduan Yang Membatu
Menggali rindumu sepanjang pematang hayatku
Tolehkan malam pada jari-jari yang menggulung
entah dalam kelam ataupun cahaya rembulan
Aku hanya berpusara
Pada dalamnya tanah basah
Pada batu hitam
Pada daun rumput kering
Usah menghela atau menghembus nasib
Akan birunya laut
Akan hijaunya belantara
Akan sepimu yang mendengar
Kusertakan resah memburumu terus
Menjalani hari-hari tanpa senyummu
Menggurati keakuan tanpa dagumu
Meruntuhkan keinginan sesatku tanpa air matamu
Pilu
Membujur kaku pada gundah
Dan temaramnya senja kota-kota tua, dukaku
Amat perih
Melanda, risaupun menepi
Engkau berjalan pada hitungan
Pedih dan aku hanya bisa memejamkan mata, untuk selalu mencintaimu
Buku ini merupakan kumpulan sajak cinta oleh Irwan, Siti (istri Irwan) dan Zeffa (anak pertama Irwan). Pertama kali aku tahu ttg buku ini, saat nonton acara KICKANDY di Metro TV dan langsung memutuskan utk membeli buku ini keesokkan harinya. Yang membuat aku bener-bener pengen membeli buku ini adalah, karena setiap membeli satu buku Angin Pun Berbisik, berarti kita menyumbang satu buku yang dicetak dalam tulisan braille. Tersentuh aja, bagaimana seorang tuna netra (seperti Irwan) benar-benar peduli ttg orang lain. Dan setelah membaca sajak-sajak yang ditulis satu keluarga ini, bikin aku tersentuh. Irwan, seorang tuna netra, mampu menghadirkan sajak yang indah dengan kata-kata yang amat sederhana. Jika di lihat satu per satu sajak ini, tidak memakai kata 'melihat', kebanyakan 'mendengar'. Dan mungkin itu yang menyebabkan ada beberapa puisi yang begitu indah dengan kata-kata sederhana.Saran aja, klo ngerasa ada sedikit uang berlebih, lebih baik beli buku ini. Karena ada nilai lebih dari sekedar sajak-sajak cinta yang di sajikan keluarga ini, ada rasa berbagi dengan sesama saudara yang sepertinya memang kurang mendapatkan perhatian. Salut to Irwan, mampu menghadirkan cinta diantara penderitaannya sebagai seorang tuna netra.